Jumat, 03 April 2009

Olivia Evangelista

Sekitar akhir 2003 atau awal tahun 2004, cerita ini dimulai. Saya, Olivia, saat itu saya berumur 16 tahun. Saya duduk di kelas 2 SMA. Anak periang yang suka bermain. Sampai ketika papa-ku menyampaikan sebuah berita. “Nak, papa pindah divisi. Jadi kita harus mulai dari nol lagi. Gaji papa akan diturunkan menjadi 1,5 juta per bulan. Tapi, kalau papa berhasil dapat proyek, papa akan dapat bagian tersendiri.”

Aku bertanya,”Kenapa papa pindah?” dengan pandangan bingung aku sampaikan protesku.

“Papa merasa kalau di bagian kemarin papa tidak akan berkembang, makanya papa memutuskan untuk pindah.”

Dulu papaku bekerja sebagai Project Supervisor di salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Ketika itu dia memutuskan pindah ke bagian Project Sales Marketing. Peraturan di perusahaan tersebut menyatakan bahwa seorang karyawan yang berpindah ke bagian Sales Marketing memiliki penghasilan sesuai dengan bagiannya, yaitu 1,5 juta. Sementara itu, sebelum pindah papaku memiliki penghasilan sekitar 3-5 juta per bulan. Perbedaannya cukup mencolok bukan? Sedangkan, pengeluaran keluargaku selama 1 bulan sekitar 2-3 juta.

Lalu, bagaimana keluargaku berusaha menutupi pengeluaran keluarga? Keluarga kami bukan keluarga yang tidak terbiasa susah. Dari kecil, kami diajari saling berbagi. Bagi kami, bukan masalah penghasilan turun, asalkan kami tetap bisa makan, sekolah dan berkumpul bersama keluarga. Sungguh! Akupun tak merasa ada masalah saat itu. Sekalipun, itu berarti aku tidak bisa lagi bermain dan pergi dengan teman-temanku. Tidak sedikit temanku yang bilang aku sombong. Aku menanggapi mereka dengan tersenyum. Tidak ku ceritakan masalah itu pada siapapun. Hanya pada Christine, sahabat baikku.

Aku juga punya pacar yang baik. Pacar yang selalu bisa membuatku tertawa walaupun aku sedang menangis. Tapi sayangnya, orang tuaku tidak menyetujui hubungan kami. Aku menentang mereka. Mamaku mengancam bahwa hubungan aku dan pacarku bukanlah masalah besar, mama bisa kapan saja membuat kau dan dia putus! Aku mulai berbohong pada orang tua dan pacarku. Dia sangat baik. Sangat menjagaku. Tapi, orang tua-ku tidak melihat itu. Ada pepatah don’t judge a book by its cover, orang tuaku melakukan yang sebaliknya. Aku sedih. Akhirnya, pacarku melihat ada yang aneh pada diriku. Mungkin sampai sekarang dia tidak tahu apa yang terjadi padaku saat itu. Sehari sebelum ulang tahun-ku yang ke 17, dia memutuskan aku.

Sedih? Pasti! Hancur? Sangat! Aku semakin jadi pendiam. Pulang sekolah, aku masuk ke kamar, kunci pintu, matikan lampu, berbaring di lantai, sambil mendengarkan sebuah lagu dari Finch, liriknya seperti ini:

“Like a bad star, I’m falling faster down to her

She’s the only one who knows what it is to burn”

Walaupun liriknya untuk seorang perempuan tapi pacarku laki-laki ko. Hehehe.

Oiya, papaku akhirnya mendapatkan proyek pertamanya setelah pindah divisi. Kami sekeluarga sangat senang. Perlahan ekonomi kami mulai membaik. Di ulang tahunku yang ke 17, aku mendapatkan hadiah sebuah telpon genggam baru. Papa bilang aku boleh memilih sendiri. Aku senang sekali. Mama membelikan aku tas dan mengajakku berbelanja. Kami senang. Sangat senang. Tapi, ternyata itu tidak bertahan lama. Setelah itu papa akhirnya memutuskan keluar dari kantor tempat dia bekerja dan memulai untuk berwirausaha. Kebetulan papa punya tanah. Karena permintaan dari seorang kerabat, akhirnya papa membangun kontrakan dengan uang pesangonnya. Dengan harapan nantinya uang dari hasil kontrakan itu bisa mencukupi kebutuhan bulanan keluarga kami. Tapi setelah kontrakan itu selesai dibangun, lagi-lagi kenyataan pahit yang harus kami terima. Uang kontrakan yang rencana awalnya dibayar di muka hingga beberapa bulan tidak juga dibayarkan. Karena, kami menyewakannya pada kerabat, kami merasa tidak enak jika harus meminta-minta apa yang seharusnya memang sudah menjadi hak kami. Lama kami menunggu, uang tersebut belum juga dibayarkan. Akibatnya, aku terpaksa menunda kuliah.

Saat itu, merupakan salah satu yang terberat dalam hidupku. Keluarga kami yang dulu paling tidak setiap minggu makan di restoran, kini tidak tahu apakah besok bisa makan. Perhiasan mama habis dijual. Bahkan besi bekas dan buku-buku bekas dijual ke pemulung. Semua itu dilakukan hanya untuk makan. Paling tidak bisa beli beras untuk makan adikku. Mama dan papa puasa untuk mengurangi jatah makan. Aku sendiri hanya selalu berusaha tersenyum di depan mereka, berusaha bahwa aku baik-baik saja. Tapi, setelah masuk ke kamar, aku menangis. Dalam sholatku, aku berdoa: “Tuhan, aku hanya ingin melihat mamaku tersenyum. Jangan sampai dia menangis lagi, Tuhan.” Dadaku sakit tiap kali aku melihat mama menangis memikirkan nasib anak-anaknya besok. Setiap kali ku berdoa, ku lihat telapak tanganku yang kecil, aku berkata, “Ya Tuhan, bisakah tangan kecilku ini suatu hari nanti mengangkat orang tuaku ke derajat yang tinggi? Mampukah aku, Tuhan?” seketika aku merasa kecil! Tak ada artinya tanganku ini. Tak bisa kubuat mama tersenyum. Tak bisa kuhapus air matanya.

Papaku jatuh sakit. Ternyata dia bukan sakit biasa. Tapi, diguna-gunai orang. Astaga, Tuhan! Bukan Cuma 1 atau 2 orang yang mengguna-gunai papa, tapi 3 orang. Papa bukan orang yang jahat. Beliau orang yang sangat tegas. Bahkan pada kami anak-anaknya. Ternyata, cara bicara papa yang tegas dan kejujurannya dianggap merugikan. Baru kali itu aku percaya bahwa santet dan guna-guna itu benar-benar ada. Ada yang membuat papa tidak bisa mendapatkan pekerjaan, menaruh tanah kuburan di rumah kami, mengirim jin dan sebangsanya. Bukan hanya itu, salah satu yang paling menyeramkan adalah guna-guna yang tidak hanya menyerang papa tapi seluruh keluarga. Pertama, menyerang papa, jika papa sudah tiada, kemudian berlanjut pada mama dan anak-anaknya. Apa salah kami??

Aku sungguh percaya bahwa Tuhan tidak akan pernah memberikan cobaan diluar batas kemampuan umatnya. Satu hal, yang tidak pernah aku lupakan. Betapa bersyukurnya keluarga kami dengan adanya kejadian-kejadian itu. Walaupun kami tidak punya uang, tak pernah sekalipun kami kelaparan. Selalu ada saja orang yang mengantarkan berbagai macam makanan untuk kami. Bahkan kami pernah dikirimi beras 2 karung, 5 kilo telur ayam, 2 kardus mie instan, 4 ekor ayam, dan entah berapa kilo daging, ikan, dan lain-lain. Setiap makan kami tak pernah lupa mengucap alhamdullillah atas berkat yang Tuhan berikan pada kami. Walaupun, sebelum itu kami pernah makan 2 bungkus mie instant untuk berlima. Tapi, sungguh, kami bersyukur. Sangat bersyukur hari itu kami bisa makan. Alhamdulillah!

Sekarang ini, aku hanya meminta, Tuhan, berkahilah diriku dengan rasa syukur, kesabaran, kekuatan, dan kemudahan. Tuhan, jadikanlah aku seseorang yang akan mengangkat orang tuaku ke derajat yang paling tinggi di dunia maupun di akhirat. Berilah kesehatan dan umur yang panjang pada orang tuaku, dan juga rezeki yang berlimpah. Jadikanlah kami keluarga yang sakinah. Amin.

P.S : mama dan papa, aku sangat sayang pada kalian.

With Love,

Olivia Evangelista